Lokasi Prioritas Wilayah Perbatasan Darat Indonesia – Malaysia

Perbatasan_KalimantanDi Kalimantan, wilayah perbatasan terbentang di 8 (delapan) daerah kabupaten, di Provinsi Kalimantan Barat 5 (lima) kabupaten (Kab. Sanggau, Kapuas Hulu, Sambas, Sintang Bengkayang) sepanjang 966 km dan di Provinsi Kalimantan Timur 3 (tiga) kabupaten (Kab. Nunukan, Kutai Barat, dan Malinau) sepanjang 1.038 km.

Adapun lokasi prioritas penanganan pertama wilayah perbatasan terdapat di kecamatan Paloh (Sambas), Jagoi babang (Bengkayang), Entikong (Sanggau), Ketungau Hulu (Sintang) dan Badau (Kapuas Hulu) di Kalimantan Barat. Sementara di Kalimantan Timur terletak di kecamatan Krayan, Sebatik dan Sebatik Barat (Nunukan) serta Kayan Hulu di Malinau.

Kondisi hingga saat ini hanya di Entikong dan Nunukan yang kondisi memiliki Custom, Immigration, Quarantine, and Security (CIQS) yang sudah cukup baik, sementara di Badau (Kapuas Hulu) dan Aruk (Sambas) yang telah terbangun belum dapat dioperasikan secara resmi. Beberapa lokasi lain yang mendesak untuk kebutuhan CIQS adalah di Jagoi Babang (Bengkayang) dan Krayan (Nunukan). Persoalan kewilayahan yang ada di perbatasan Kalimantan – Malaysia adalah isu mengenai pergeseran pilar batas Negara, seperti di wilayah Paloh (Camar Bulan), Sebatik dan Krayan (Nunukan). Hingga saat ini semua Lokasi Prioritas I Kaltim telah dilengkapi dengan pos pengamananan perbatasan, dengan total sebanyak 18 pos di Kalbar dan 26 pos di Kaltim.

Potensi sumber daya lahan wilayah perbatasan darat di Kalimantan cukup besar dan bernilai ekonomi cukup tinggi. Keberadaan hutan produksi sebagai kawasan budidaya kehutanan memiliki potensi pengembangan untuk pengelolaan hasil hutan secara berkelanjutan. Sementara itu keberadaan hutan lindung, taman nasional, dan potensi alam lain yang berada di Kapuas Hulu, Krayan dan Kayan Hilir dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata dan perlindungan ekologi. Beberapa lahan budidaya non kehutanan merupakan aset penting bagi pengembangan perekonomian di beberapa kawasan perbatasan, seperti budidaya perkebunan sawit di Sebatik, Sebuku dan Bengkayang maupun perkebunan karet di Entikong, Ketungau Hulu dan Badau. Untuk pengembangan lahan pertanian sendiri sebagian besar terbatas pada pertanian tradisional untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia sangat beragam, namun secara umum hal ini dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur dan juga budaya setempat. Wilayah dengan infrastruktur lebih baik memiliki tingkat kesejahteraan relatif lebih baik dibandingkan wilayah lain dengan infrastruktur terbatas. Seperti di wilayah pedalaman Kaltim di Kayan Hulu, Krayan dengan akses yang hanya bisa dijangkau jalur udara, fasilitas penunjang kesejahteraan seperti pendidikan dan kesehatan sangat terbatas dengan tenaga yang juga minim. Namun, kondisi serupa juga dijumpai di kawasan yang bisa diakses melalui jalur darat seperti Paloh, Ketangau Hulu, Badau dan Jagoi Babang di Kalbar. Sementara di Entikong, Sebatik dengan akses yang lebih mudah memiliki kondisi kesejahteraan lebih baik walaupun masih tertinggal dengan wilayah Malaysia. Hampir semua LOKPRI di Kalimantan sangat tergantung pada Negara tetangga khususnya untuk roda perekonomian dan kebudayaan. Hal ini mengingat akses yang lebih dekat serta budaya yang hampir sama di wilayah setempat (Suku Dayak, Melayu dan Bugis).

Fokus penanganan di LOKPRI Kalimantan pada dasarnya harus berjalan pararel antara pembangunan infrastruktur dan pembangunan kesejahteraan masyarakat. Pola pembangunan infrastruktur yang ada telah direncanakan di masing-masing pemerintah daerah. Teridentifikasi rencana pembangunan jalan poros yang akan menghubungkan wilayah-wilayah perbatasan mulai dari Sambas di Kalbar hingga Nunukan di Kaltim. Kondisi potensi sumberdaya alam dan masyarakat yang ada di sepanjang perbatasan Kalimantan harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan kebutuhan jangka pendek dengan tidak mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>